Namaste


 

Random thought, tiba-tiba terlintas dibenak saya kata 'Namaste' , mungkin 'Namaste' sendiri bukan kata yang lazim di telinga sebagian orang, lain hal untuk beberapa orang yang barangkali mengetahui kata tersebut melalui televisi 'after watching india movie syndrome' detected  , tidak hanya itu, 'Namaste' sendiri acap kali di sandingkan dengan Yoga.

Why 'Namaste' relatable with Yoga? , pernah saya mengikuti kelas Yoga, instruktur Yoga mengajarkan untuk melakukan gerakan 'Namaste' di awal dan akhir kelas yoga, gerakan menyatukan antara telapak tangan yang satu dengan yang lain di depan dada. 'Namaste' mengungkapkan sebuah kebenaran bahwa kita semua adalah satu seperti yang diajarkan Yoga. Pada sebuah artikel yang saya baca di internet 'Namaste' sendiri ternyata juga membangkitkan rasa spiritualitas dalam kelas yoga dan mengatur suasana kelas. Yaitu untuk menjadi damai, positif, dan bekerja  tanpa ego atau persaingan.

Dan entah kenapa saya terpikir mengkaitkan antara 'Namaste' dengan Perempuan, in this whole universe Perempuan merupakan sosok yang menurut saya lembut hati namun pada sebagian wanita, mereka memiliki hati yang keras untuk melindungi apa yang perlu mereka lindungi, bukan berarti Lelaki tidak, mungkin nyaman untuk saya membahas Perempuan, karena saya menjadi bagian dari Gender Character ini.

Lelaki dan Perempuan pasti memiliki 'Namaste' nya masing masing, disini yang saya maksud dengan 'Namaste' adalah sebuah ketentraman jiwa. Untuk Perempuan yang notabene suatu hari akan menikah dan berkeluarga ada yang merasa bahwa puncak ketentraman jiwa ialah setelah menikah, berkeluarga dan memiliki keturunan, namun sebagian perempuan lain ada yang merasa bahwa puncak ketentraman jiwa akan di dapatkan setelah mereka meraih goals hidup yang mereka inginkan, atau ada lagi yang menganggap semuanya bisa dilakukan seiring sejalan untuk mendapatkan sebuah ketentraman jiwa, tentu saja, tidak ada yang salah perihal pilihan hidup. semuanya sudah tertata apik dalam takdir yang Allah gariskan. tidak ada yang lebih lambat, tidak ada yang lebih cepat, semua sudah punya jalannya masing-masing, sesuai tempo.

"din, someday gue bisa jadi ibu yang baik atau nggak ya? 
actually, gue nggak suka anak-anak,"
pertanyaan kemarin malam yang saya sendiri tidak bisa menjawab secara pasti, karena ini pertanyaan dengan jawaban yang relatif menurut saya, bisa kamu jawab saat kamu mengalami, bisa kamu jawab karena kamu melihat pengalaman dari orang lain. mungkin opsi kedua lebih menarik jika dibahas.

mungkin proses yang mengantarkan semua perempuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup. pada akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa setiap perempuan memiliki ketentraman jiwa mereka masing-masing, mungkin sekarang bisa bilang tidak suka, karena belum mengalami, mungkin bisa bilang tidak bisa karena belum menjalani. ada perempuan yang menjadi sosok ibu yang tidak bisa 24/7 stay bersama anak anak mereka namun mengusahakan yang terbaik dengan memberikan sokongan dana untuk kehidupan keluarga dengan bekerja, ada pula ibu yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dengan mendedikasikan dirinya 24/7 untuk keluarganya dirumah, mengusahakan yang terbaik untuk menciptakan keluarga dengan lingkungan yang kondusif dan baik. 

jadi siapa yang lebih baik? , tidak ada, Ibu tetaplah Ibu, setiap Ibu di dunia memiliki cara yang tak biasa untuk memberikan yang terbaik untuk anak anak mereka, karena pada akhirnya yang dibutuhkan oleh anak adalah Ibu yang bahagia dengan 'Namaste'.

Comments

Popular Posts